Disentri merupakan infeksi yang menyebabkan inflamasi
pada usus besar dan rektum, biasanya ditandai dengan diare yang mengandung darah dan nyeri perut. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit dan bisa menyebar dengan cepat, terutama di wilayah dengan sanitasi yang buruk. Meskipun dapat menimpa siapa saja, disentri lebih umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang memiliki sistem imun lemah.
Apa Itu Disentri?
Disentri adalah suatu kondisi medis yang mengarah pada peradangan bagian kolon atau usus besar, menyebabkan gejala utama berupa diare yang disertai darah dan lendir. Kadang-kadang, gejala lain yang mungkin muncul mencakup demam, mual, dan kram perut. Disentri dapat dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan penyebabnya: disentri amuba yang disebabkan oleh parasit dan disentri basiler yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Disentri Amuba (Amebic Dysentery)
Disentri amuba disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica yang menyerang usus besar. Parasit ini umumnya ditemukan di makanan atau air yang tercemar, dan dapat menyebar dengan mudah di daerah dengan sanitasi yang buruk.
Disentri Basiler (Bacillary Dysentery)
Disentri basiler disebabkan oleh bakteri dari kelompok Shigella, yang juga bisa menginfeksi usus besar dan memicu gejala diare berdarah. Penyebaran bakteri ini biasanya melalui makanan atau air yang terkontaminasi serta kontak langsung dengan individu yang terinfeksi.
Penyebab Disentri
Disentri dapat muncul karena berbagai faktor, termasuk infeksi bakteri dan parasit yang berasal dari makanan atau air yang tercemar. Berikut adalah beberapa penyebab utama disentri:
Infeksi Bakteri (Shigella)
Bakteri Shigella adalah penyebab utama dari disentri basiler. Infeksi bakteri ini dapat menyebar melalui makanan atau air yang tercemar, atau juga melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Shigella dapat berkembang dengan cepat di usus besar dan menimbulkan peradangan serta iritasi yang memicu gejala diare berdarah.
Infeksi Parasit (Entamoeba histolytica)
Parasit Entamoeba histolytica menyebabkan disentri amuba. Parasit ini memasuki tubuh melalui konsumsi makanan atau air yang tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung parasit. Setelah berada di usus besar, amuba ini dapat mengakibatkan infeksi yang berujung pada gejala seperti diare, kram perut, dan demam.
Kurangnya Sanitasi
Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk adalah faktor risiko utama untuk kedua jenis disentri. Wilayah dengan kebersihan yang rendah dan fasilitas sanitasi yang buruk dapat memudahkan penyebaran bakteri atau parasit, meningkatkan risiko infeksi di masyarakat.
Penularan dari Orang ke Orang
Disentri juga dapat tersebar dari orang ke orang melalui kontak langsung atau dengan barang-barang yang terontaminasi oleh kuman atau parasit. Kurangnya kebersihan saat mencuci tangan setelah menggunakan toilet atau kontak dengan penderita bisa meningkatkan risiko tertular disentri.
Gejala Disentri
Gejala disentri dapat bervariasi tergantung penyebabnya, namun umumnya melibatkan gangguan pencernaan yang cukup serius. Beberapa gejala yang sering dialami penderita disentri adalah:
Diare Berdarah
Salah satu gejala utama disentri adalah diare yang disertai darah dan lendir. Hal ini terjadi akibat peradangan pada usus besar yang mengakibatkan kerusakan jaringan usus.
Nyeri Perut dan Kram
Penderita disentri sering merasakan nyeri perut dan kram yang cukup parah, terutama di bagian bawah perut. Ini disebabkan oleh peradangan yang terjadi di usus besar.
Demam
Demam yang ringan hingga tinggi sering muncul pada pasien yang menderita disentri sebagai reaksi tubuh terhadap infeksi. Demam ini biasanya disertai dengan perasaan lelah dan kelemahan.
Mual dan Muntah
Mual dan muntah juga dapat muncul sebagai gejala disentri, meskipun gejala ini lebih sering dijumpai pada infeksi bakteri. Muntah dapat mempercepat terjadinya dehidrasi pada tubuh.
Penanganan Disentri
Penanganan disentri umumnya melibatkan pengobatan untuk mengatasi penyebab infeksi, serta untuk mengelola gejala dan mencegah terjadinya dehidrasi. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk menangani disentri:
Pengobatan dengan Antibiotik atau Antiprotozoa
Disentri basiler (Shigella): Pengobatan dengan antibiotik seperti ciprofloxacin atau azithromycin biasanya efektif untuk mengobati infeksi bakteri. Pengobatan ini membantu membunuh bakteri penyebab disentri dan mengurangi durasi gejala.
Disentri amuba (Entamoeba histolytica): Infeksi amuba biasanya diobati dengan obat antiprotozoa seperti metronidazole atau tinidazole untuk membasmi parasit dalam tubuh.
Rehidrasi
Karena diare yang parah dapat mengakibatkan dehidrasi, sangat penting bagi penderita disentri untuk mengisi kembali cairan tubuh yang hilang. Larutan rehidrasi oral (ORS) adalah metode yang efektif untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.
Perawatan di Rumah
Jika gejala disentri tergolong ringan, penderita bisa melakukan perawatan di rumah, seperti:
Mengonsumsi cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
Menghindari makanan berat atau berlemak untuk memberi waktu bagi perut untuk pulih.
Istirahat yang cukup agar tubuh dapat melawan infeksi dengan baik.
Perawatan Rumah Sakit
Pada kasus disentri yang parah, seperti yang disertai dehidrasi berat atau komplikasi lainnya, perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan. Penderita dapat diberikan cairan infus dan obat-obatan melalui suntikan untuk mengatasi infeksi lebih cepat.
Pencegahan Disentri
Beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena disentri meliputi:
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum makan.
Menghindari mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi.
Memastikan sanitasi yang baik dan akses ke air bersih di rumah atau tempat umum.