Epidural Hematoma (EH) merupakan kondisi medis yang
serius di mana terjadi akumulasi darah di antara lapisan pelindung otak (dura mater) dan tengkorak. Situasi ini biasanya disebabkan oleh cedera kepala yang menyebabkan pembuluh darah di sekitar otak pecah, mengakibatkan perdarahan. Epidural hematoma adalah keadaan yang mengancam jiwa dan memerlukan perhatian medis secepatnya untuk mencegah komplikasi yang lebih berat atau bahkan kematian.
Apa Itu Epidural Hematoma?
Definisi dan Penjelasan
Epidural Hematoma terjadi ketika darah mengumpul di ruang antara dura mater (lapisan pelindung otak) dan tengkorak. Situasi ini umumnya disebabkan oleh cedera kepala yang mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di area tersebut, baik arteri atau vena. Epidural hematoma sering terjadi setelah trauma kepala yang cukup keras, seperti kecelakaan kendaraan, jatuh, atau cedera saat berolahraga.
Darah yang terkumpul dapat memberikan tekanan pada
otak, mengganggu fungsi normalnya, dan menyebabkan kerusakan otak yang parah jika tidak secepatnya diatasi. Ini adalah kondisi yang sangat berbahaya karena tekanan pada otak dapat meningkat dengan cepat, yang dapat mengakibatkan penurunan kesadaran atau bahkan kematian.
Jenis Epidural Hematoma
Epidural hematoma dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi perdarahan dan cepatnya perkembangan kondisi tersebut. Ada dua jenis utama epidural hematoma:
Epidural Hematoma Akut: Terjadi dengan cepat, seringkali dalam beberapa jam setelah cedera. Pada jenis ini, gejala dapat berkembang dengan sangat cepat, dan pasien memerlukan penanganan medis segera.
Epidural Hematoma Subakut atau Kronis: Pada jenis ini, perdarahan terjadi lebih lambat dan gejala mungkin muncul beberapa hari atau minggu setelah cedera. Meskipun gejalanya tidak langsung parah, kondisi ini tetap memerlukan perhatian medis secepatnya.
Gejala Epidural Hematoma
Gejala Umum yang Harus Diwaspadai
Gejala epidural hematoma bervariasi tergantung pada tingkat keparahan perdarahan dan bagian otak yang terdampak. Namun, beberapa gejala umum yang sering muncul meliputi:
Kehilangan Kesadaran: Setelah cedera kepala yang cukup keras, penderita mungkin kehilangan kesadaran untuk waktu singkat, atau bahkan tidak sadarkan diri sama sekali.
Sakit Kepala Parah: Rasa sakit kepala yang tiba-tiba dan sangat parah sering kali merupakan pertanda bahwa darah menekan otak.
Mual dan Muntah: Tekanan pada otak dapat mengarah pada mual dan muntah yang berlanjut.
Gangguan Penglihatan: Penderita dapat mengalami penglihatan kabur atau ganda akibat gangguan pada saraf mata.
Kelemahan atau Kelumpuhan: Salah satu sisi tubuh atau bagian tubuh tertentu dapat mengalami kelemahan atau kelumpuhan, tergantung pada area otak yang tertekan.
Perubahan Perilaku atau Kepribadian: Penderita mungkin menjadi bingung, gelisah, atau bahkan tidak responsif terhadap orang-orang di sekitarnya.
Pada beberapa kasus, pasien mungkin tampak sadar
sebentar setelah cedera, tetapi gejala akan memburuk dengan cepat dalam beberapa jam setelahnya. Oleh karena itu, epidural hematoma harus segera diidentifikasi dan ditangani.
Penyebab dan Faktor Risiko Epidural Hematoma
Penyebab Utama Epidural Hematoma
Penyebab utama epidural hematoma adalah cedera kepala yang cukup keras. Beberapa penyebab umum yang dapat mengakibatkan cedera ini adalah:
Kecelakaan Kendaraan: Kecelakaan mobil atau sepeda motor sering menjadi penyebab utama cedera kepala berat, yang dapat menimbulkan epidural hematoma.
Jatuh: Terjatuh dengan keras, terutama pada orang lanjut usia atau mereka yang memiliki masalah keseimbangan, dapat menyebabkan cedera kepala yang serius.
Cedera Olahraga: Kecelakaan atau benturan keras yang terjadi dalam olahraga seperti sepak bola, hoki, atau tinju dapat menyebabkan cedera kepala yang berujung pada hematoma epidural.
Kekerasan: Pukulan atau benturan keras yang mengenai kepala akibat kekerasan fisik atau perilaku kriminal juga dapat berakibat pada hematoma epidural.
Faktor Risiko
Beberapa hal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hematoma epidural antara lain:
Usia: Individu yang berusia lebih tua mengalami risiko lebih tinggi karena adanya kelemahan pada pembuluh darah yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Cedera Otak Sebelumnya: Seseorang yang pernah mengalami cedera otak di masa lalu lebih rentan terhadap masalah seperti hematoma epidural.
Kondisi Medis Tertentu: Beragam kondisi medis, seperti gangguan dalam pembekuan darah atau penggunaan obat pengencer darah, dapat meningkatkan risiko adanya perdarahan di otak setelah terjadinya cedera.
Diagnosis dan Pengobatan Epidural Hematoma
Diagnosis Epidural Hematoma
Diagnosis hematoma epidural umumnya dilakukan melalui beberapa langkah, termasuk:
Pemeriksaan Fisik: Dokter akan melakukan evaluasi fisik untuk menilai gejala yang dirasakan pasien, seperti kesadaran, kemampuan motorik, dan respons terhadap rangsangan.
CT Scan atau MRI: Untuk memastikan adanya akumulasi darah di ruang epidural, dokter akan meminta CT scan atau MRI kepala. Hasil dari pemindaian ini akan menunjukkan adanya perdarahan serta lokasi tepat di mana darah mengumpul.
Pemeriksaan Neurologis: Dokter juga akan melakukan pemeriksaan neurologis untuk menilai kemungkinan kerusakan otak yang telah terjadi.
Pengobatan Epidural Hematoma
Pengobatan untuk hematoma epidural sangat bergantung pada ukuran serta lokasi perdarahan dan kondisi umum pasien. Pilihan metode pengobatan utamanya meliputi:
Pengobatan Bedah: Dalam kasus yang parah, di mana perdarahan menyebabkan tekanan serius pada otak, prosedur operasi untuk mengeluarkan darah dari ruang epidural dan mengurangi tekanan pada otak mungkin diperlukan. Proses ini biasanya dilakukan dengan kraniotomi, yaitu membuka tengkorak untuk mengakses daerah yang terluka.
Perawatan Medis: Pasien yang dalam kondisi stabil mungkin tidak memerlukan operasi tetapi tetap harus dirawat dengan hati-hati di rumah sakit. Obat untuk mengendalikan rasa sakit serta mencegah infeksi juga diberikan.
Pemantauan Intensif: Pasien yang baru saja menjalani operasi akan dipantau secara intensif untuk memastikan tidak terjadi perdarahan lebih lanjut serta untuk menghindari komplikasi lain.
Rehabilitasi: Sesudah pengobatan awal, pasien yang mengalami cedera otak mungkin perlu menjalani rehabilitasi fisik dan terapi okupasi untuk mendukung proses pemulihan.