Kanker ovarium adalah salah satu tipe kanker yang
berkembang di ovarium (indung telur) wanita. Ovarium berperan dalam memproduksi sel telur dan hormon seks wanita, seperti estrogen dan progesteron. Kanker ovarium dapat berkembang perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Situasi ini membuat kanker ovarium sering terlambat terdiagnosis, sehingga pengobatannya menjadi lebih sulit. Memahami gejala-gejalanya merupakan langkah penting untuk deteksi dini.
Gejala Kanker Ovarium yang Harus Diwaspadai
Perut Kembung dan Rasa Penuh
Salah satu gejala awal yang sering dirasakan oleh penderita kanker ovarium adalah perut kembung yang tidak wajar atau merasa cepat kenyang meskipun hanya makan sedikit. Rasa penuh dan kembung ini dapat disebabkan oleh penumpukan cairan atau tumor di ovarium yang memberi tekanan pada bagian dalam perut. Jika gejala ini bertahan lebih dari beberapa hari, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
Nyeri Perut atau Panggul
Nyeri atau ketidaknyamanan di perut atau panggul juga dapat menjadi tanda dari kanker ovarium. Rasa sakit ini biasanya tidak terlokalisir dan dapat bersifat tumpul atau tajam. Terkadang, nyeri panggul bisa disertai dengan perasaan berat atau tertekan pada perut bagian bawah. Jika rasa sakit ini tidak kunjung reda atau terjadi berulang kali, itu bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius, termasuk kanker ovarium.
Perubahan Kebiasaan Buang Air Kecil
Wanita dengan kanker ovarium sering melaporkan adanya perubahan dalam kebiasaan buang air kecil. Hal ini bisa berupa meningkatnya frekuensi buang air kecil atau kesulitan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya. Ketika tumor tumbuh di ovarium, ia dapat menekan kandung kemih atau saluran kemih, yang mengakibatkan gejala ini.
Kehilangan Nafsu Makan atau Penurunan Berat Badan
Penurunan nafsu makan yang tidak wajar, disertai dengan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, adalah gejala lain yang perlu diwaspadai. Wanita dengan kanker ovarium mungkin merasa kenyang lebih cepat atau kehilangan minat terhadap makanan, yang berkontribusi pada penurunan berat badan. Meskipun penurunan berat badan dapat terjadi pada banyak kondisi, jika disertai dengan gejala lain, bisa menjadi tanda kanker ovarium.
Gangguan Pencernaan
Gejala lain yang sering berkaitan dengan kanker ovarium adalah gangguan pencernaan seperti mual, diare, atau sembelit. Hal ini sering terjadi akibat pertumbuhan tumor yang menekan usus atau bagian lain dari sistem pencernaan. Jika gangguan pencernaan tidak hilang setelah perubahan pola makan atau penggunaan obat, segera periksakan ke dokter.
Gejala Lain yang Perlu Diwaspadai
Perubahan Menstruasi
Kanker ovarium juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Wanita mungkin mengalami perubahan dalam periode menstruasi, seperti periode yang lebih panjang atau lebih berat dari biasanya. Perubahan ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon atau efek langsung dari tumor pada ovarium. Jika terjadi perubahan mendadak dalam siklus menstruasi, disertai dengan gejala lain, konsultasikan dengan dokter.
Kelelahan yang Berlebihan
Kelelahan atau rasa lelah yang tidak dapat dijelaskan dapat menjadi gejala dari kanker ovarium. Penderita mungkin merasa lelah meskipun sudah cukup tidur atau beristirahat. Hal ini dapat terjadi karena tubuh berjuang melawan kanker, yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan energi secara keseluruhan.
Pendarahan atau Keputihan yang Tidak Normal
Meskipun pendarahan vagina bukanlah gejala yang paling umum, sebagian wanita dengan kanker ovarium dapat mengalami pendarahan atau keputihan yang tidak biasa. Hal ini dapat terjadi pada wanita yang telah melewati menopause atau bahkan wanita yang masih dalam tahap reproduksi. Perdarahan ini harus segera dikonsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Jika Anda mengalami satu atau lebih gejala di atas yang bertahan lebih dari beberapa minggu, atau jika gejalanya semakin parah, sangat penting untuk segera menghubungi dokter. Deteksi dini kanker ovarium dapat meningkatkan kemungkinan pengobatan yang berhasil. Dokter mungkin akan melakukan serangkaian tes, seperti USG, tes darah, dan biopsi untuk memastikan diagnosis.