Leishmaniasis merupakan penyakit parasitik yang
diakibatkan oleh infeksi protozoa dari genus Leishmania. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat penghisap darah dari spesies Phlebotomine yang terinfeksi oleh parasit. Leishmaniasis dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, mulai dari lesi kulit yang tidak berbahaya hingga bentuk lebih parah seperti penyakit visceral yang bisa mengancam nyawa. Artikel ini akan membahas mengenai penyebab, gejala, penularan, serta upaya pencegahan leishmaniasis.
Apa Itu Leishmaniasis?
Leishmaniasis adalah penyakit yang ditimbulkan oleh parasit Leishmania, yang menyerang manusia melalui gigitan lalat penghisap darah. Parasit ini berkembang biak di dalam tubuh lalat, dan saat lalat tersebut menggigit manusia atau hewan lain untuk menghisap darah, parasit itu ditularkan ke dalam tubuh inang. Penyakit ini dapat berkembang dalam beberapa bentuk, tergantung pada jenis parasit serta kekebalan tubuh individu yang terinfeksi.
Leishmaniasis dikelompokkan menjadi tiga jenis utama berdasarkan bentuk penyakit yang muncul:
Leishmaniasis kulit: Merupakan bentuk yang paling umum, di mana infeksi mengakibatkan luka atau borok pada kulit. Meskipun tidak mengancam jiwa, infeksi ini dapat meninggalkan bekas luka permanen.
Leishmaniasis mukokutan: Dalam bentuk ini, infeksi dapat menyebar ke selaput lendir, seperti hidung, mulut, dan tenggorokan, yang mengakibatkan kerusakan serius pada jaringan tersebut.
Leishmaniasis visceral: Ini merupakan bentuk paling
parah dan mengancam jiwa. Infeksi menyebar ke organ dalam seperti hati, limpa, dan sumsum tulang, serta dapat menyebabkan demam tinggi, pembengkakan organ, dan kegagalan organ.
Gejala Leishmaniasis
Gejala leishmaniasis bervariasi tergantung pada jenis penyakit dan lokasi infeksi. Beberapa gejala yang umum terlihat pada berbagai bentuk leishmaniasis adalah:
Leishmaniasis Kulit
Pada bentuk kulit, gejala utama adalah kemunculan luka atau borok di kulit yang bisa berkembang menjadi ulserasi besar. Lesi ini biasanya ditemukan pada area yang terpapar sinar matahari, seperti wajah, tangan, dan kaki. Meskipun borok ini umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, mereka dapat meninggalkan bekas luka yang signifikan setelah sembuh.
Leishmaniasis Mukokutan
Pada jenis ini, infeksi dapat mengakibatkan pembengkakan dan kerusakan pada hidung, mulut, dan tenggorokan. Jika tidak diobati, kerusakan ini bisa mempengaruhi kemampuan bernapas dan makan, serta menimbulkan deformitas wajah.
Leishmaniasis Visceral
Leishmaniasis visceral, yang juga disebut kala-azar, menunjukkan gejala yang lebih serius, termasuk demam tinggi, penurunan berat badan, pembengkakan perut (akibat pembesaran hati dan limpa), serta kelelahan berat. Jika tidak ditangani dengan benar, leishmaniasis visceral dapat berujung pada kematian.
Penularan Leishmaniasis dan Pencegahannya
Leishmaniasis ditularkan melalui gigitan lalat penghisap darah Phlebotomine yang terinfeksi parasit Leishmania. Lalat ini biasanya hidup di daerah tropis dan subtropis, termasuk wilayah Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Mediterania. Gigitan lalat yang terinfeksi akan membawa parasit ke dalam tubuh manusia atau hewan yang digigit.
Pencegahan leishmaniasis dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut:
Menghindari Gigitan Lalat: Menggunakan pelindung tubuh seperti pakaian panjang dan aplikasi insektisida pada kulit dapat membantu mencegah gigitan lalat.
Menggunakan Kelambu: Tidur di bawah kelambu yang
telah diberi insektisida dapat memberikan perlindungan dari gigitan lalat, terutama di daerah endemik.
Pengendalian Vektor: Pengendalian populasi lalat penghisap darah melalui pemberantasan tempat berkembang biaknya (seperti genangan air) dapat mengurangi penularan penyakit.
Vaksin dan Terapi: Saat ini, vaksin untuk leishmaniasis belum banyak tersedia. Terapi untuk leishmaniasis terutama terdiri dari medikasi antiprotozoa seperti antimonat, miltefosine, dan liposomal amphotericin B, tergantung pada jenis infeksi.